Senin, 06 Maret 2017

Pemikiran Belajar Melalui Pembelajaran Tematik



A.    Latar Belakang Pembelajaran Tematik
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) model pembelajaran untuk anak tingkat Sekolah Dasar kelas rendah, yaitu kelas 1, 2, dan 3 adalah pembelajaran yang dikemas dalam bentuk tema – tema (tematik). Tema merupakan wadah atau wahana untuk mengenalkan berbagai konsep materi kepada anak didik secara menyeluruh. Tematik diberikan dengan maksud menyatukan konten kurikulum dalam unit – unit atau satuan – satuan yang utuh dan membuat pembelajaran lebih terpadu, bermakna, dan mudah dipahami oleh siswa SD/MI. Tema – tema yang bisa dikembangkan di kelas awal Sekolah Dasar mengacu kepada prinsip – prinsip sebagai berikut :
1.      Pengalaman mengembangkan tema dalam kurikulum disesuaikan dengan mata pelajaran yang akan dikembangkan.
2.      Dimulai dengan lingkungan yang terdekat dengan anak (expanding community approach).
3.      Dimulai dari hal – hal yang mudah menuju yang sulit, dari hal yang sederhana menuju yang kompleks, dan dari hal yang konkret menuju yang abstrak.
KTSP merupakan kurikulum operasional yang berbasisi kompetensi sebagai hasil refleksi, pemikiran dan pengkajian yang mendalam dari kurikulum yang telah berlaku beserta pelaksanaannya. Dengan kurikulum ini diharapkan dapat membantu mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan – tantangan di masa depan.kompetensi – kompetensi yang dikembangkan dalam KTSP diarahkan untuk memberikan keterampilan dan keahlian bertahan hidup dalam kondisi yang penuh dengan berbagai perubahan, persaingan, ketidakpastian, dan kerumitan – kerumitan dalam kehidupan. Kurikulum ini ditunjukan untuk  menciptakan lulusan yang kompeten dan cerdas dalam membangun integritas sosial, serta membudayakan dan mewujudkan karakter nasional.
B.     Tahap Perkembangan  Belajar Anak Sekolah Dasar
Tahap perkembangan tingkah laku belajar siswa Sekolah Dasar sangat dipengaruhi oleh aspek – aspek dari dalam dirinya dan lingkungan yang ada di sekitarnya. Dari kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri siswa dengan lingkungannya. Menurut Piaget (1950) setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori kognitif). Menurut Piaget, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata, yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek tersebut langsung melalui proses asimilasi, yaitu menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran anak dan akomodasi, yaitu proses memanfaatkan konsep – konsep dalam pikirannya untuk menafsirkan objek yang dilihatnya.
Piaget membagi perkembangan berpikir anak ke dalam tahap – tahap sebagai berikut :
-          Usia 0 – 2 tahun (sensorimotor)
-          Usia 2 – 7 tahun (praopera-sional)
-          Usia 7 – 11 tahun (operasi konkret)
-          Usia 11 tahun lebih (operasi formal)
Pada setiap tahapan tersebut menunjukkan perilaku yang unik, dinamis dan menjadi ciri psikologis dari perilaku belajar pada rentang usia tersebut.
Anak pada usia Sekolah Dasar ( 7 – 11 tahun ) berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia ini tingkah laku anak yang tampak yaitu :
a.       Anak mulai memandang dunia secara objektif
b.      Anak mulai berpikir secara operasional
c.       Anak mampu mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklarifikasikan benda – benda
d.      Anak dapat membentuk dan menggunakan keterhubungan aturan – aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan sebab-akibat
e.       Anak dapat memahami konsep substansi, panjang, lebar, luas, tinggi, rendah, ringan, dan berat.
Kecenderungan belajar anak usia Sekolah Dasar memiliki tiga ciri, yaitu : konkret, integratif, dan hierarkis.
C.     Belajar dan Pembelajaran Bermakna (Meaningful Learning)
Menurut Jackson (1991) belajar merupakan proses membangun pengetahuan melalui transformasi pengalaman, sedangkan pembelajaran merupakan upaya yang sistematis dan sistematis dalam menata lingkungan belajar guna menumbuhkan dan mengembangkan belajar peserta didik. Proses belajar itu sendiri bersifat individual dan kontekstual, artinya proses belajar tersebut terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangannya dan lingkungannya. Proses belajar merupakan indikator berhasil tidaknya pembelajaran.
Belajar bermakna (meaningfull learning) pada dasrnya merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep – konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.
Agar terjadi belajar bermakna, maka guru harus selalu berusaha mengetahui dan menggali konsep – konsep yang telah dimiliki siswa dan membantu memadukannya secara harmonis konsep-konsep tersebut dngan pengetahuan baru yang akan diajarkan. Bila tidak dilakukan usaha untuk memadukan pengetahuan baru dengan konsep-konsep relevan yang sudah ada dalam struktur kognitif siswa, maka pengetahuan baru tersebut cenderunng akan dipelajari secara hafalan.
D.    Pengertian Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik merupakan salah satu model dalam pembelajaran  terpadu (integrade instruction) yang merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif menggali dan menemukan konsep serta prinsip- prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan autentik. Pembelajaran terpadu berorientasi pada praktik pembelajaran yang menolak proses latiahn/hafalan (drill) sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak. Teori pembelajaran ini dimotori para tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran itu haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak. Pendekatan pembelajaran terpadu lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing).
E.     Landasan Pembelajaran Tematik
Landasan-landasan pembelajaran tematik di Sekolah dasar  yaitu :
1.      Landasan Filosofis
Kemunculan pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat yaitu, progresivisme, konstruktivisme, dan humanisme
2.      Landasan Psikologis
Berkaitan dengan psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Melalui pembelajaran tematik diharapkan adanya perubahan perilaku siswa menuju kedewasaan, baik fisik, mental/intelektual, moral maupun sosial.
3.      Landasan Yuridis
Dalam UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dinyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (Pasal 9).
Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuaii dengan bakat,  minat, dan kemampuannya (Bab V Pasal 1-b).
Selain ketiga landasan diatas, dalam pelaksanaan pembelajaran tematis  perlu dipertimbangkan landasan sosial-budaya dan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS). Landasan IPTEK deperlukan dalam pengembangan pembelajaran tematik sebagai upaya menyelaraskan meteri pembelajaran dengan perkembangan dan kemajuan yang terjadi dalam dunia IPTEK, baik secara langsung maupun tidak langsung.
F.      Pentingynya Pembelajaran Tematik untuk Murid Sekolah Dasar
Pentingnya pembelajaran tematik diterapkan di Sekolah Dasar karena pada umumnya siswa pada tahap ini masih melihat segala sesuatu sebagai keutuhan (holistik), perkembangan fisiknya tidak pernah bisa dipisahkan dengan perkembangan mental, sosial, dan emosional.
     Apabila dibandingkan dengan pembelajaran konvensional, pembelajaran tematik memiliki beberapa keunggulan, di antaranya :
-          Pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar
-          Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan siswa
-          Kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi siswa, sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama
-          Membantu mengembangkan keterampilan berfikir siswa
-          Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmati
-          Mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti kerja sama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
Pembelajaran tematik sangat penting diterapkan di sekolah dasar sebab memiliki banyak nilai dan manfaat, di antaranya :
-          Dengan menggabungkan beberapa kompetensi dasar dan indikator serta isi mata pelajaran akan terjadi penghematan, karena tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan
-          Siswa dapat melihat hubungan-hubungan yang bermakna sebab isi/materi pembelajaran lebih berpesan sebagai sarana atau alat, bukan tujuan akhir
-          Pembelajaran tidak terpecah-pecah karena siswa dilengkapi dengan pengalaman pelajar yang lebih terpadu sehingga akan mendapat pengertian mengenai proses dan materi yang lebih terpadu
-          Memberikan penerapan-penerapan dari dunia nyata
-          Dengan adanya pemaduan antarmata pelajaran, maka penguasaan materi pembelajaran akan semakin baik dan meningkat.
G.    Karakteristik Model Pembelajaran Tematik
Sebagai suatu model pembelajaran di Sekolah Dasar, pembelajaran tematik memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut :
-          Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered)
-          Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung pada siswa (direct experiences)
-          Dalam pembelajaran tematik pemisahan antarmata pelajaran menjadi tidak begitu jelas
-          Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran
-          Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel)
-          Hasil pembelajaran sesuai dnegan minat dan kebutuhan siswa
-          Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan
H.    Rambu – rambu Pembelajaran Tematik
Dalam pembelajaran tematik yang harus diperhatikan guru adalah  sebagai berikut :
-          Tidak semua mata pelajaran harus dipadukan
-          Dimungkinkan terjadi penggabungan kompetensi dasar lintas semester
-          Kompetensi dasar yang tidak dapat dipadukan, jangan dipaksakan untuk dipadukan
-          Kompetensi dasar yang tidak tercakup pada tema tertentu harus tetap diajarkan baik melalui tema lain maupun disajiakan secara tersendiri
-          Kegiatan pembelajaran ditekankan pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitunng serta penanaman nilai-nilai moral
-          Tema-tema yang dipilih disesuaikan dengan karakteristik siwa, minat, lingkungan, dan daerah tersebut.
I.       Ruang Lingkup Pembelajaran Tematik
Ruang lingkup pengembangan pembelajaran tematik meliputi seluruh mata pelajaran pada kelas I, II, dan III Sekolah Dasar, yaitu pada mmata pelajaran Pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Pendidikan Kewarganegaraan, Ilmu Pengetahuan Sosial, Seni Budaya dan Keterampilan, serta Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan.
J.       Implementasi Pembelajaran Tematik
Dalam merancang pembelajaran tematik di Sekolah Dasar bisa dilakukan dengan dua cara:
1.      Dimulai dengan menetapkan terlebih dahulu tema-tema tertentu yang akan diajarkan, dilanjutkan dengan mengidentifikasi dan memetakan kompetensi dasar pada beberapa mata pelajaran yang diperkirakan relevan dengan tema-tema tersebut. Tema-tema ditetapkan dengan memperhatikan lingkungan yang terdekat dengan siswa, dimulai dari hal yang termudah menuju yang sulit, dari hal yang sederhana menuju yang kompleks, dan dari hal yang konkret menuju hal yang abstrak. Cara ini biasanya dilakukan untuk kelas-kelas awal sekolah (kelas I dan II). Contoh tema yang bisa dikembangkan, misalnya diri sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, pekerjaan, tumbuhan, hewan, alamm sekitar, dan segabainya.
2.      Dimulai dengan mengidentifikasi kompetensi dasar dari bebrapa mata pelajaran yang memiliki hubungan, dilanjutkan dengan penetapan tema pemersatu. Dengan demikian, tema-tema pemersatu tersebut ditentukan setelah mempelajari kompetensi dasar dan indikator yang terdapat dalam masing-masing mata pelajaran. Penetapan tema dapat dilakukan dengan melihat kemungkinan materi pelajaran pada salah satu mata pelajaran yang dianggap dapat mempersatukan beberapa kompetensi dasar pada beberapa mata pelajaran yang akan dipadukan. Cara ini dilakukan untuk jenjang Sekolah Dasar kelas III s.d VI.
Alur atau langkah-langkah dalam mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran tematik meliputi tujuh tahap, yaitu :
a.       Menetapkan mata pelajaran yang akan dipadukan
b.      Mempelajari kompetensi dasar dan indikator dari mata pelajaran yang akan dipadukan
c.       Memilih dan menetapkan tema/topik pemersatu
d.      Membuat matriks atau bagan hubungan kompetensi dasar dan tema/topik pemersatu
e.       Menyusun silabus pembelajaran tematik
Format silabus disusun dalam bentuk matriks dan memuat tentang :
-          Mata pelajaran
-          Kompetensi dasar
-          Indikator yang akan dicapai
-          Kegiatan pembelajaran
-          Sarana dan sumber belajar
-          Penilaian
f.       Penyusunan rencana pembelajaran tematik
Komponen rencana pembelajaran tematik meliputi :
-          Tema atau judul
-          Identitas mata pelajaran (nama Mapel, kelas, semester, dan waktu/banyaknya jam pertemuan yang dialokasikan)
-          Kompetensi dasar dan indikator pencapaian
-          Materi pokok
-          Strategi pembelajaran
-          Alat dan media
-          Penilaian dan tindak lanjut
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tematik sebaiknya disusun dalam bentuk format naratif. Conoth format dan pedoman penyusunan rencana pembelajaran tematik dapat dilihat dibawah ini.
FORMAT
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TEMATIK
Nama Sekolah
Alamat Sekolah
     Tema                           :...............
     Mata Pelajaran            :
1.      ......................
2.      ......................
3.      ......................
Kelas/Semester     :....................
Alokasi Waktu     :....................
(1)   Kompetensi Dasar
(2)   Indikator
(3)   Tujuan Pembelajaran
(4)   Materi pokok
(5)   Metode yang Digunakan
(6)   Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
a.       Kegiatan Pendahuluan (± 25 menit)
b.      Kegiatan Inti (sesuai dengan Alokasi Waktu yang Ditetapkan)
c.       Kegiatan Penutup (± 25 menit)
(7)   Alat, Media, dan Sumber
(8)   Penilaian Hasil Belajar
g.      Pengelolaan Kelas
-          Pengaturan Tempat Belajar
-          Pengaturan Siswa
-          Pemilihan Bentuk Kegiatan
-          Pemilihan Media Pembelajaran
-          Penilaian
1.      Prinsip Penilaian
2.      Objek Penilaian
3.      Jenis dan Alat Penilaian
4.      Pelaporan Hasil Penilaian

 Terimakasih...

 ------------------------
Daftar Pustaka

Rusman. 2012. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Gravindo Persada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar