A. Latar
Belakang Pembelajaran Tematik
Dalam
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) model pembelajaran untuk anak
tingkat Sekolah Dasar kelas rendah, yaitu kelas 1, 2, dan 3 adalah pembelajaran
yang dikemas dalam bentuk tema – tema (tematik). Tema merupakan wadah atau
wahana untuk mengenalkan berbagai konsep materi kepada anak didik secara
menyeluruh. Tematik diberikan dengan maksud menyatukan konten kurikulum dalam
unit – unit atau satuan – satuan yang utuh dan membuat pembelajaran lebih
terpadu, bermakna, dan mudah dipahami oleh siswa SD/MI. Tema – tema yang bisa
dikembangkan di kelas awal Sekolah Dasar mengacu kepada prinsip – prinsip
sebagai berikut :
1. Pengalaman
mengembangkan tema dalam kurikulum disesuaikan dengan mata pelajaran yang akan
dikembangkan.
2. Dimulai
dengan lingkungan yang terdekat dengan anak (expanding
community approach).
3. Dimulai
dari hal – hal yang mudah menuju yang sulit, dari hal yang sederhana menuju
yang kompleks, dan dari hal yang konkret menuju yang abstrak.
KTSP merupakan kurikulum operasional
yang berbasisi kompetensi sebagai hasil refleksi, pemikiran dan pengkajian yang
mendalam dari kurikulum yang telah berlaku beserta pelaksanaannya. Dengan
kurikulum ini diharapkan dapat membantu mempersiapkan peserta didik menghadapi
tantangan – tantangan di masa depan.kompetensi – kompetensi yang dikembangkan
dalam KTSP diarahkan untuk memberikan keterampilan dan keahlian bertahan hidup
dalam kondisi yang penuh dengan berbagai perubahan, persaingan, ketidakpastian,
dan kerumitan – kerumitan dalam kehidupan. Kurikulum ini ditunjukan untuk menciptakan lulusan yang kompeten dan cerdas
dalam membangun integritas sosial, serta membudayakan dan mewujudkan karakter
nasional.
B. Tahap
Perkembangan Belajar Anak Sekolah Dasar
Tahap
perkembangan tingkah laku belajar siswa Sekolah Dasar sangat dipengaruhi oleh
aspek – aspek dari dalam dirinya dan lingkungan yang ada di sekitarnya. Dari
kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses belajar
terjadi dalam konteks interaksi diri siswa dengan lingkungannya. Menurut Piaget
(1950) setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan
beradaptasi dengan lingkungannya (teori kognitif). Menurut Piaget, setiap anak
memiliki struktur kognitif yang disebut schemata,
yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap
objek tersebut langsung melalui proses asimilasi, yaitu menghubungkan objek
dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran anak dan akomodasi, yaitu proses
memanfaatkan konsep – konsep dalam pikirannya untuk menafsirkan objek yang
dilihatnya.
Piaget
membagi perkembangan berpikir anak ke dalam tahap – tahap sebagai berikut :
-
Usia 0 – 2 tahun (sensorimotor)
-
Usia 2 – 7 tahun (praopera-sional)
-
Usia 7 – 11 tahun (operasi konkret)
-
Usia 11 tahun lebih (operasi formal)
Pada
setiap tahapan tersebut menunjukkan perilaku yang unik, dinamis dan menjadi
ciri psikologis dari perilaku belajar pada rentang usia tersebut.
Anak pada usia Sekolah Dasar ( 7 – 11
tahun ) berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia ini tingkah laku
anak yang tampak yaitu :
a. Anak
mulai memandang dunia secara objektif
b. Anak
mulai berpikir secara operasional
c. Anak
mampu mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklarifikasikan benda –
benda
d. Anak
dapat membentuk dan menggunakan keterhubungan aturan – aturan, prinsip ilmiah
sederhana, dan mempergunakan sebab-akibat
e. Anak
dapat memahami konsep substansi, panjang, lebar, luas, tinggi, rendah, ringan,
dan berat.
Kecenderungan belajar anak usia Sekolah
Dasar memiliki tiga ciri, yaitu : konkret, integratif, dan hierarkis.
C. Belajar
dan Pembelajaran Bermakna (Meaningful
Learning)
Menurut
Jackson (1991) belajar merupakan proses membangun pengetahuan melalui
transformasi pengalaman, sedangkan pembelajaran merupakan upaya yang sistematis
dan sistematis dalam menata lingkungan belajar guna menumbuhkan dan
mengembangkan belajar peserta didik. Proses belajar itu sendiri bersifat
individual dan kontekstual, artinya proses belajar tersebut terjadi dalam diri
individu sesuai dengan perkembangannya dan lingkungannya. Proses belajar
merupakan indikator berhasil tidaknya pembelajaran.
Belajar
bermakna (meaningfull learning) pada
dasrnya merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep – konsep
relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.
Agar
terjadi belajar bermakna, maka guru harus selalu berusaha mengetahui dan
menggali konsep – konsep yang telah dimiliki siswa dan membantu memadukannya
secara harmonis konsep-konsep tersebut dngan pengetahuan baru yang akan
diajarkan. Bila tidak dilakukan usaha untuk memadukan pengetahuan baru dengan
konsep-konsep relevan yang sudah ada dalam struktur kognitif siswa, maka
pengetahuan baru tersebut cenderunng akan dipelajari secara hafalan.
D. Pengertian
Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik merupakan
salah satu model dalam pembelajaran
terpadu (integrade instruction)
yang merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara
individual maupun kelompok, aktif menggali dan menemukan konsep serta prinsip-
prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan autentik. Pembelajaran terpadu
berorientasi pada praktik pembelajaran yang menolak proses latiahn/hafalan (drill) sebagai dasar pembentukan
pengetahuan dan struktur intelektual anak. Teori pembelajaran ini dimotori para
tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran itu
haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak.
Pendekatan pembelajaran terpadu lebih menekankan pada penerapan konsep belajar
sambil melakukan sesuatu (learning by doing).
E. Landasan
Pembelajaran Tematik
Landasan-landasan pembelajaran tematik di Sekolah
dasar yaitu :
1. Landasan
Filosofis
Kemunculan pembelajaran tematik sangat dipengaruhi
oleh tiga aliran filsafat yaitu, progresivisme,
konstruktivisme, dan humanisme
2. Landasan
Psikologis
Berkaitan dengan psikologi perkembangan dan
psikologi belajar. Melalui pembelajaran tematik diharapkan adanya perubahan
perilaku siswa menuju kedewasaan, baik fisik, mental/intelektual, moral maupun
sosial.
3. Landasan
Yuridis
Dalam UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
dinyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam
rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat
dan bakatnya (Pasal 9).
Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional dinyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan
berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuaii dengan bakat, minat, dan kemampuannya (Bab V Pasal 1-b).
Selain ketiga landasan diatas, dalam pelaksanaan
pembelajaran tematis perlu
dipertimbangkan landasan sosial-budaya dan perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni (IPTEKS). Landasan IPTEK deperlukan dalam pengembangan
pembelajaran tematik sebagai upaya menyelaraskan meteri pembelajaran dengan
perkembangan dan kemajuan yang terjadi dalam dunia IPTEK, baik secara langsung
maupun tidak langsung.
F. Pentingynya
Pembelajaran Tematik untuk Murid Sekolah Dasar
Pentingnya pembelajaran tematik
diterapkan di Sekolah Dasar karena pada umumnya siswa pada tahap ini masih
melihat segala sesuatu sebagai keutuhan (holistik), perkembangan fisiknya tidak
pernah bisa dipisahkan dengan perkembangan mental, sosial, dan emosional.
Apabila
dibandingkan dengan pembelajaran konvensional, pembelajaran tematik memiliki
beberapa keunggulan, di antaranya :
-
Pengalaman dan kegiatan belajar sangat
relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar
-
Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam
pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan siswa
-
Kegiatan belajar akan lebih bermakna dan
berkesan bagi siswa, sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama
-
Membantu mengembangkan keterampilan
berfikir siswa
-
Menyajikan kegiatan belajar yang
bersifat pragmati
-
Mengembangkan keterampilan sosial siswa,
seperti kerja sama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang
lain.
Pembelajaran
tematik sangat penting diterapkan di sekolah dasar sebab memiliki banyak nilai
dan manfaat, di antaranya :
-
Dengan menggabungkan beberapa kompetensi
dasar dan indikator serta isi mata pelajaran akan terjadi penghematan, karena
tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan
-
Siswa dapat melihat hubungan-hubungan yang
bermakna sebab isi/materi pembelajaran lebih berpesan sebagai sarana atau alat,
bukan tujuan akhir
-
Pembelajaran tidak terpecah-pecah karena
siswa dilengkapi dengan pengalaman pelajar yang lebih terpadu sehingga akan
mendapat pengertian mengenai proses dan materi yang lebih terpadu
-
Memberikan penerapan-penerapan dari
dunia nyata
-
Dengan adanya pemaduan antarmata
pelajaran, maka penguasaan materi pembelajaran akan semakin baik dan meningkat.
G. Karakteristik
Model Pembelajaran Tematik
Sebagai suatu model pembelajaran di
Sekolah Dasar, pembelajaran tematik memiliki karakteristik-karakteristik
sebagai berikut :
-
Pembelajaran tematik berpusat pada siswa
(student centered)
-
Pembelajaran tematik dapat memberikan
pengalaman langsung pada siswa (direct
experiences)
-
Dalam pembelajaran tematik pemisahan
antarmata pelajaran menjadi tidak begitu jelas
-
Pembelajaran tematik menyajikan
konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran
-
Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel)
-
Hasil pembelajaran sesuai dnegan minat
dan kebutuhan siswa
-
Menggunakan prinsip belajar sambil
bermain dan menyenangkan
H. Rambu
– rambu Pembelajaran Tematik
Dalam
pembelajaran tematik yang harus diperhatikan guru adalah sebagai berikut :
-
Tidak semua mata pelajaran harus
dipadukan
-
Dimungkinkan terjadi penggabungan
kompetensi dasar lintas semester
-
Kompetensi dasar yang tidak dapat
dipadukan, jangan dipaksakan untuk dipadukan
-
Kompetensi dasar yang tidak tercakup
pada tema tertentu harus tetap diajarkan baik melalui tema lain maupun
disajiakan secara tersendiri
-
Kegiatan pembelajaran ditekankan pada
kemampuan membaca, menulis, dan berhitunng serta penanaman nilai-nilai moral
-
Tema-tema yang dipilih disesuaikan
dengan karakteristik siwa, minat, lingkungan, dan daerah tersebut.
I. Ruang
Lingkup Pembelajaran Tematik
Ruang
lingkup pengembangan pembelajaran tematik meliputi seluruh mata pelajaran pada
kelas I, II, dan III Sekolah Dasar, yaitu pada mmata pelajaran Pendidikan
Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Pendidikan
Kewarganegaraan, Ilmu Pengetahuan Sosial, Seni Budaya dan Keterampilan, serta
Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan.
J. Implementasi
Pembelajaran Tematik
Dalam
merancang pembelajaran tematik di Sekolah Dasar bisa dilakukan dengan dua cara:
1. Dimulai
dengan menetapkan terlebih dahulu tema-tema tertentu yang akan diajarkan,
dilanjutkan dengan mengidentifikasi dan memetakan kompetensi dasar pada
beberapa mata pelajaran yang diperkirakan relevan dengan tema-tema tersebut.
Tema-tema ditetapkan dengan memperhatikan lingkungan yang terdekat dengan
siswa, dimulai dari hal yang termudah menuju yang sulit, dari hal yang
sederhana menuju yang kompleks, dan dari hal yang konkret menuju hal yang
abstrak. Cara ini biasanya dilakukan untuk kelas-kelas awal sekolah (kelas I
dan II). Contoh tema yang bisa dikembangkan, misalnya diri sendiri, lingkungan
keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, pekerjaan, tumbuhan,
hewan, alamm sekitar, dan segabainya.
2. Dimulai
dengan mengidentifikasi kompetensi dasar dari bebrapa mata pelajaran yang
memiliki hubungan, dilanjutkan dengan penetapan tema pemersatu. Dengan
demikian, tema-tema pemersatu tersebut ditentukan setelah mempelajari
kompetensi dasar dan indikator yang terdapat dalam masing-masing mata
pelajaran. Penetapan tema dapat dilakukan dengan melihat kemungkinan materi
pelajaran pada salah satu mata pelajaran yang dianggap dapat mempersatukan
beberapa kompetensi dasar pada beberapa mata pelajaran yang akan dipadukan.
Cara ini dilakukan untuk jenjang Sekolah Dasar kelas III s.d VI.
Alur atau langkah-langkah dalam
mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran tematik meliputi tujuh tahap,
yaitu :
a. Menetapkan
mata pelajaran yang akan dipadukan
b. Mempelajari
kompetensi dasar dan indikator dari mata pelajaran yang akan dipadukan
c. Memilih
dan menetapkan tema/topik pemersatu
d. Membuat
matriks atau bagan hubungan kompetensi dasar dan tema/topik pemersatu
e. Menyusun
silabus pembelajaran tematik
Format silabus disusun
dalam bentuk matriks dan memuat tentang :
-
Mata pelajaran
-
Kompetensi dasar
-
Indikator yang akan dicapai
-
Kegiatan pembelajaran
-
Sarana dan sumber belajar
-
Penilaian
f. Penyusunan
rencana pembelajaran tematik
Komponen
rencana pembelajaran tematik meliputi :
-
Tema atau judul
-
Identitas mata pelajaran (nama Mapel,
kelas, semester, dan waktu/banyaknya jam pertemuan yang dialokasikan)
-
Kompetensi dasar dan indikator
pencapaian
-
Materi pokok
-
Strategi pembelajaran
-
Alat dan media
-
Penilaian dan tindak lanjut
Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tematik sebaiknya disusun dalam bentuk format
naratif. Conoth format dan pedoman penyusunan rencana pembelajaran tematik
dapat dilihat dibawah ini.
FORMAT
RENCANA
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TEMATIK
Nama Sekolah
Alamat Sekolah
Tema :...............
Mata Pelajaran :
1.
......................
2.
......................
3. ......................
Kelas/Semester :....................
Alokasi Waktu :....................
(1)
Kompetensi Dasar
(2)
Indikator
(3)
Tujuan Pembelajaran
(4)
Materi pokok
(5)
Metode yang Digunakan
(6)
Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
a.
Kegiatan Pendahuluan (± 25 menit)
b.
Kegiatan Inti (sesuai dengan Alokasi
Waktu yang Ditetapkan)
c.
Kegiatan Penutup (± 25 menit)
(7)
Alat, Media, dan Sumber
(8)
Penilaian Hasil Belajar
g. Pengelolaan
Kelas
-
Pengaturan Tempat Belajar
-
Pengaturan Siswa
-
Pemilihan Bentuk Kegiatan
-
Pemilihan Media Pembelajaran
-
Penilaian
1. Prinsip
Penilaian
2. Objek
Penilaian
3. Jenis
dan Alat Penilaian
4. Pelaporan
Hasil Penilaian
Terimakasih...
------------------------
Daftar
Pustaka
Rusman. 2012. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Gravindo Persada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar